Apa itu kepribadian yang sehat sih sebenarnya? Apakah sifat-sifat orang yang memiliki kepribadian yang sehat? Pertanyaan ini terus menerus ditanyakan bukan hanya oleh ahli-ahli psikologi tetapi juga oleh berjuta-juta orang lain.
Sejumlah besar orang Amerika mencari-cari dalam kelompok, menyelediki, dan menyikapkan diri batiniah dan badaniah mereka dalam sensitivity sessions, T-groups, dan sejumlah bentuk encounter therapy lainnya. Penjahat-penjahat, pecandu-pecandu obat bius , mahasiswa-mahasiswa dan guru-guru, pekerja-pekerja dan pemimpin-pemimpin perusahaan, orang muda dan orang tua, orang gemuk dan orang kurus rupanya menemukan dalam pengalaman-pengalaman itu dimensi-dimensi dan potensi-potensi dalam kepribadian mereka yang tidak pernah disadari bahwa mereka memilikinya.
Pokok dari gerakan yang sangat populer ini adalah menemukan serta merumuskan suatu kepribadian yang lebih sehat. Tekanan tidak begitu banyak pada penyembuhan konflik-konflik yang ada hubungannya dengan masa kanak-kanak dan luka-luka emosional masa lampau dibandingkan dengan pada pelepasan sumber-sumber yang tersembunyi dari bakat, kreativitas, energi, dan dorongan. Fokusnya ialah ke arah apa seseorang dapat menjadi, bukan ke arah apa yang telah terjadi atau pada saat ini.
Studi tentang potensi manusia untuk pertumbuhan sudah lama diabaikan dalam psikologi yang pertama-tama memeriksa sakit jiwa bukan kesehatan jiwa. Akan tetapi dalam bertahun-tahun belakangan ini, ahli-ahli psikologi yang jumlahnya meningkat mulai mengakui kapasitas untuk bertumbuh dan berkembang dalam kepribadian manusia.
Ahli-ahli psikologi pertumbuhan ini (kebanyakan di antara mereka memandang diri mereka sebagai ahli-ahli psikologi humanistik) telah memiliki suatu pandangan yang segar terhadap kodrat manusia. Apa yang mereka lihat adalah suatu tipe orang yang berbeda dari apa yang digambarkan oleh behaviorisme dan psikoanalisis, bentuk-bentuk psikologi tradisional.
Individu digambarkan sebagai suatu organisme yang tersusun baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, dan kreativitas, seperti suatu alat pengatur panas.
Menurut Psikoanalisis sisi yang sakit atau pincang dari kodrat manusia karena hanya berpusat pada tingkah laku yang neurotis dan psikotis. Freud dan orang-orang yang mengikuti ajaran-ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.
Baik behavior maupun psikoanalisis tidak berbicara mengenai potensi kita untuk bertumbuh, keinginan kita untuk menjadi lebih baik atau lebih banyak daripada yang ada. Tentu saja, segi-segi pandangan ini memberikan suatu gambaran yang pesimistis tentang kodrat manusia. Kita dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara positif terhadap stimulus-stimulus dari luar oleh ahli-ahli psikoanalisis sebagai korban dari kekuatan-kekuatan biologis dan konflik-konflik masa kanak-kanak.
Bagi ahli-ahli psikologis pertumbuhan, manusia jauh lebih banyak daripada itu. Meskipun kebanyakan ahli psikologi pertumbuhan tidak menyangkal bahwa stimulus dari luar, insting dan konfli-konflik masa kanak-kanak mempengaruhi kepribadian, namun mereka tidak percaya bahwa manusia merupakan korban yang tak dapat berubah dari kekuatan-kekuatan ini. Kita dapat dan harus berkembang dan bertumbuh melampaui kekuatan-kekuatan ini yang secara potensial menghambat. Gambaran ahli psikologi pertumbuhan tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas kita untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi diri kita, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan kita.
Pendukung-pendukung gerakan potensi manusia mengemukakan bahwa ada suatu tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sangat diperlukan, yang melampaui “normalitas”, dan mereka mengemukakan bahwa manusia perlu memperjuangkan tingkat pertumbuhan yang lebih maju supaya merealisasikan atau mengaktualisasikan semua potensinya. Dengan kata lain, tidak cukup hanya bebas dari sakit emosional, tidak adanya tingkah laku neurotis atau psikotis tidak cukup untuk menilai seseorang sebagai pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit emosional hanya merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemenuhan.
Apabila kita percaya kepada ahli-ahli psikologi pertumbuhan, mungkin saja memiliki semua segi kehidupan yang berfungsi secara memuaskan, namun masih menderita kebosanan yang menyiksa, stagnasi, keputusaasaan, tak berarti. Bahkan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tampaknya ideal, kita dapat merasakan suatu kehampaan yang menjemukkan dalam kehidupan kita, seolah-olah kehilangan sesuatu yang penting,walaupun demikian kita tidak dapat mengenal apa yang salah. Kita dapat hidup senang, memiliki suatu pekerjaan yang terjamin dan suatu keluarga yang hangat dan penuh kasih, bebas dari kecemasan, walaupun demikian tidak mengenal suatu kegembiraan yang hebat, suatu antusiasme yang meluap-luap, suatu perasaan yang kuat akan dedikasi atau komitmen. Jelas ada yang kurang beres, kehidupan kita tidak sesempurna sebagaimana semestinya meskipun dari luar tidak kelihatan.
Tolstoy, yang berusia 50 tahun ketika ia menulis gambaran yang mengharukan ini tentang kekacauan batinnya sendiri, tidak dapat dianggap sebagai pribadi sehat. Dan hal itu membawa kita kembali pada pertanyaan, “apakah itu kepribadian sehat?” sampai sekarang kita hanya menggambarkan apakah yang bukan kepribadian sehat. Ada satu alasan yang wajar terhadap hal ini, kita tidak mengetahui dengan pasti apa itu kepribadian sehat karena terdapat sedikit persesuaian pendapat di kalangan ahli-ahli psikologi yang bekerja dalam bidang ini. Ada cukup banyak definisi tentang kepribadian sehat untuk mengisi suatu buku kecil. Hal yang paling baik yang dapat kita capai pada tingkat pengetahuan kita ini adalah meneliti konsepsi-konsepsi tentang kesehatan psikologis yang positif itu yang tampaknya sangat sempurna, melihat apa yang dikatakan oleh konsepsi-konsepsi tersebut tentang diri kita.
Daftar Pustaka:
Daftar Pustaka :
Duane, Schultz. (1991). Psikologi Pertumbuhan (Model-Model Kepribadian Sehat). Yogyakarta: Kanisius.